Falsafah Ekonomi Islam: Ikhtiar Membangun dan Menjaga Tradisi Ilmiah Paradigmatik dalam Menggapai Falah

Bismillahirrahmanirrahim

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah Subhanahu Wata’ala (SWT). Kita memuji, memohon pertolongan dan petunjuk serta ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Siapa yang ditunjuki Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan Allah maka tiada seorangpun yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, tidak ada Nabi setelahnya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” (Ali Imran [3]:102)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia mendapat kemenangan yang besar.” (al-Ahzab [33]:70-71)

Ilmu ekonomi Islam merupakan sebuah disiplin ilmu yang ‘kembali’ mendapatkan perhatian luas dari berbagai kalangan ekonom baik Muslim maupun non-Muslim, baik negara Muslim maupun bukan negara Muslim. Perhatian ini diberikan begitu mendalam setelah ditelan gelombang kolonialisme terhadap hampir seluruh negara mayoritas Islam. Perhatian ini juga sedikit banyak dipicu oleh kegagalan ekonomi konvensional yang tidak mampu menjawab berbagai persoalan ekonomi. Kita, selaku umat Muslim, harus bangga dan optimis tinggi, ternyata Islam memiliki suatu kunci jawaban tersendiri terhadap persoalan ekonomi. Kita juga harus optimis, bahwa Islam satu-satunya dien yang mampu memberikan kearah pencerahan lebih baik lagi.

Ilmu ekonomi Islam yang baru tiga dekade lebih –bila terhitung dari terlaksananya konferensi internasional tentang ekonomi islam di Mekah pada tahun 1976 tentu harus terus dikembangkan dan diperkenalkan kepada masyarakat. Usia ini tidaklah sebanding dengan panjangnya perjalanan ilmu ekonomi konvensional yang telah begitu kompleks menjadi sebuah disiplin ilmu. Oleh karena itu, berbagai penelitian harus terus diusung dan dipupuk dalam individu-individu ekonom Muslim.

Bila berbicara keyakinan, tentu kitapun meyakini bahwa Ilmu ekonomi Islam adalah lebih baik ketimbang konvensional. Namun bila berbicara struktur keilmuan atau body of knowledge termasuk tradisi ilmiahnya, maka ekonomi Islam masih relatif “jauh” dibandingkan konvensional. Upaya yang paling fundamental dan urgen adalah membangun struktur ilmu ekonomi Islam, bangunan paradigma dan metodologi ilmu ekonomi Islam.

Islam tidak hanya dipandang sebagai sebuah sistem hidup dan kehidupan (manhaj al-hayah), khususnya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dipandang memiliki basis struktur keilmuan yang kuat. Buku ini berusaha menjelaskan filsafat ilmu dari ilmu ekonomi Islam. Untuk itu, pembahasan buku ini dibagi menjadi lima bab; Bab pertama, bab pendahuluan yang menjelaskan latar belakang ekonomi Islam yang diawali oleh beberapa fakta bahwa ekonomi Islam perlu dikembangkan, khususnya ilmu ekonomi Islam. Pada bab ini juga membahas pokok filsafat ilmu untuk membangun ilmu ekonomi Islam. Pokok filsafat ilmu tersebut adalah aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi.

Bab kedua, membahas aspek basis ontologi ilmu ekonomi Islam. Ontologi Islam yang dibahas meliputi pandangan hidup (worldview) seseorang terhadap kehidupan ini. Bagaimana seorang muslim memahami metafisika, dan bagaimana menjalani kehidupan ini dengan memiliki paradigma yang benar. Untuk itu, pembahasan akan difokuskan pada beberapa konsep dasar, antara lain konsep mengenal Tuhan (Allah), konsep nubuwwah dan kerasulan, konsep manusia sebagai wakil Allah di muka bumi, konsep alam semesta, konsep agama.

Bab ketiga, membahas aspek epistemologi ekonomi Islam. Didalamnya terdapat pembahasan yang pada intinya menerangkan sumber-sumber ilmu pengetahuan (masdar `ilm) dan seperangkat alat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu ekonomi Islam. Pada bab ini pula akan dibahas peran ushul fiqh sebagai metode ilmiah-epistemik dalam tradisi Islam. Untuk mendukung bahwa Islam memiliki kerangka epistemologi, maka disampaikan epsitemologi Islam bayani, epsitemologi irfani, dan epistemologi burhani yang disampaikan secara ringkas dan padat.

Bab keempat, merupakan kelanjutan dari epistemologi Islam. Di mana untuk mendapatkan ilmu ekonomi Islam, diperlukan metode-metode yang tepat. Untuk itu dihadirkan berbagai pemikiran metodologi ilmu ekonomi Islam. Beberapa pemikiran metodologi yang disampaikan antara lain M. Fahim Khan, Abdul Mannan, Akram Kahn, Muhammad Anwar, Irfan ul-Haq, dan Monzer Kahf. Pada bab ini, penjelasan ilmu ekonomi Islam lebih mendapatkan porsi banyak. Karena, ini merupakan inti dari filsafat ilmu, yaitu menemukan kerangka ilmiah dalam membangun suatu ilmu pengetahuan termasuk ilmu ekonomi Islam.

Bab kelima, aksiologi ilmu ekonomi Islam. Pada bab ini dijelaskan praktek dan nilai-nilai yang tersosialisasikan dalam ilmu ekonomi Islam. Di dalamnya juga terdapat kritik serta perkembangan ilmu ekonomi Islam. Bab ini lebih berbicara aspek-aspek pragmatis ilmu ekonomi Islam seperti perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah, zakat, ekonomi pembangunan, dan nilai-nilai teori lainnya.

Bab terakhir, bab penutup. Bab yang merangkum berbagai penjelasan yang telah dibahas untuk disimpulkan. Pada bab ini sebagai penekanan kembali kerangka berpikir bagi kita dalam memahami maupun mengembangkan ilmu ekonomi Islam yang berkelanjutan (body of knowledge) .

Akhirnya, penyusun sangat menyadari akan berbagai kekurangan yang terdapat dalam buku ini. Memang, buku ini terlalu sederhana untuk sebuah tema yang begitu besar. Namun kiranya, sedikit wacana dan pemikiran yang disampaikan dalam buku ini dapat berguna dan bermanfaat dalam rangka menjaga tradisi ilmiah yang paradigmatik bukan pragmatis. Mudah-mudahan kekurangan yang ada di dalamnya mendorong semua pihak, para pakar ilmu ekonomi Islam, untuk memperbaiki sekaligus mengembangkan ilmu ekonomi Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Semoga, ikhtiar yang sangat kecil ini mendapatkan ridho Allah SWT, serta memberikan sumbangsih bagi pengembangan ilmu ekonomi Islam. Ikhtiar kecil dalam rangka membangun dan menjaga tradisi ilmiah paradigmatik untuk menggapai falah.

Fiqh Tamkin (Fiqh Pemberdayaan)

Membangun Modal Sosial Dalam Mewujudkan Khairu Ummah

Bismillahirrahmanirrahim

Pengkajian kata Tamkin dibandingkan kata Empowerment atau Pemberdayaan bukan tanpa alasan. Kajian konsep tentang Tamkin (pemberdayaan) di dalam buku ini membawa pesan bahwa penggunaan kata Tamkin lebih tepat dan epistemik (what we know and how we know) dibandingkan kata Empowerment atau Pemberdayaan. Jika berhenti pada kerangka “what we know” (definisi), kata Tamkin, Pemberdayaan dan Empowerment mungkin masih bisa dikaitkan satu sama lain. Namun jika ditingkatkan pada pertanyaan “how we know” (apa dan bagaimana melakukan pemberdayaan) dalam kerangka epistemologis, maka dua kata yang disebut terakhir lemah dari sisi kerangka paradigmatik-nya. Sementara kata Tamkin memiliki akar kata yang kuat dalam Al-Quran dan secara praktis dicontohkan oleh Rasulullah sang pembawa risalah melalui fase Mekkah dan fase Madinah. Apa itu Tamkin dan bagaimana cara kerja Tamkin itu berproses serta relevansinya dengan konsep Modal Sosial (Social Capital) dan Khairu Ummah bisa “berguru” kepada Al-Quran maupun sunnah Rasulullah saw melalui buku ini yang dibahas dengan pendekatan akademis dan praktis.

Hayya 'ala al-Shalah - Hayya 'ala al-Falah

7 Disiplin Meraih Kemenangan Abadi

(The Road to Total Empowerment)

Bismillahirrahmanirrahim

7 Rahasia dalam shalat bagaimana menjadikan Anda pribadi tangguh dan siap menjadi pemenang di dunia dan akhirat (kemenangan abadi)!

Setelah bersaksi sebagai seorang Muslim (Rukun Islam 1), kemudian??

1. Apa yang harus Anda lakukan sebagai seorang Muslim?

2. Apa harapan Anda sebagai seorang Muslim untuk menjalani kehidupan ini?

3. Bagaimana cara seorang Muslim menyikapi atau menghadapi tantangan kenyataan hidup ini?

4. Sudahkah Anda mempunyai tujuan hidup yang membuat Anda bahagia lahir dan batin?

Buku ini ingin memberikan pesan bahwa seorang Muslim harus punya tujuan hidup! Dari pemaknaan adzan dan shalat bagaimana shalat memotivasi dan memberdayakan Anda untuk siap menghadapi kehidupan dengan senantiasa memiliki pola hati (heart-set) dan pola pikir (mind-set) yang positif dan siap menjadi pemenang di dunia dan akhirat sekaligus! Menjadi pemenang dalam “permainan dunia” ini dengan akhir yang baik (husnul khatimah).

TAMKIN INDEX MODEL (TIM)

KERANGKA PENGUKURAN PEMBERDAYAAN BERBASIS MAQASHID AL-SHARIAH & FIQIH TAMKIN

(Mengukur Pemberdayaan Sebagai Proses Transformasi Manusia)

Bismillahirrahmanirrahim

Buku ini memperkenalkan Tamkin Index Model (TIM), sebuah kerangka pengukuran pemberdayaan berbasis fiqh tamkin dan maqashid al-shariah. Berbeda dari pendekatan kesejahteraan konvensional, TIM memandang pemberdayaan sebagai proses bertahap: dari perlindungan, penguatan, kemandirian, hingga kemampuan memberi manfaat bagi orang lain.

Melalui pembahasan konseptual, metodologi kuantitatif, serta simulasi empiris, buku ini menunjukkan bagaimana pemberdayaan dapat diukur secara sistematis dan digunakan sebagai dasar evaluasi kebijakan. Model ini memungkinkan lembaga zakat, program sosial, pesantren, dan pengembangan UMKM syariah untuk tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga memetakan perjalanan perubahan penerima manfaat.

TIM tidak dimaksudkan menggantikan pendekatan kesejahteraan yang ada, melainkan melengkapinya—menggeser evaluasi dari sekadar pemetaan kondisi menuju diagnosis penyebab dan perancangan intervensi yang lebih tepat.

Buku ini ditujukan bagi akademisi, mahasiswa, praktisi pemberdayaan, lembaga zakat, serta pengambil kebijakan yang ingin memahami bagaimana nilai-nilai Islam dapat diterjemahkan menjadi instrumen pengukuran pembangunan manusia yang operasional.

Pada akhirnya, pemberdayaan dalam Islam bukan sekadar mengentaskan kemiskinan, tetapi menumbuhkan manusia yang mampu berdiri sendiri dan kemudian menguatkan orang lain.
Di situlah makna tamkin menemukan relevansinya.

Social Capital and Group Lending Model (GLM)

An Analysis in Islamic Microfinance Institution

Bismillahirrahmanirrahim

It is well established in finance theory that credit markets characterized by high asymmetric information lead to severe distortions and, sometimes, the complete collapse of the formal credit market. Financial contracts or services will not be written under this condition. The contracts between borrower and lender will only be honored if the element of trust exists in such transactions. In this context, the basis of trust depends on two critical elements: (1) the applicant's reputation as a person of honor and (2) the availability of enough capital or collateral against which a claim can be made in case of default. Basically, the result of this research would perhaps build upon these two elements, whereby the basis of trust depends on the applicant's reputation as a person of honor. In this research paper, the applicant's reputation, as social capital, is attained through the group lending model (GLM) in Islamic microfinance institutions. Poor people deserve access to financial services through this social capital via non-market institutions. Not just serving as social collateral, social capital also contributes to the high loan repayment rate among program participants.

Riset Terkini

Kumpulan kajian mendalam tentang ekonomi syariah.

A researcher analyzing data charts in a modern office setting with Islamic geometric patterns on the walls.
A researcher analyzing data charts in a modern office setting with Islamic geometric patterns on the walls.
Policy Paper

Analisis kebijakan keuangan syariah terbaru.

Close-up of hands typing on a laptop with financial graphs and Islamic motifs on the screen.
Close-up of hands typing on a laptop with financial graphs and Islamic motifs on the screen.
Working Paper

Studi awal untuk pengembangan literasi keuangan.

Stack of academic journals and papers with a pen and a cup of tea on a wooden desk.
Stack of academic journals and papers with a pen and a cup of tea on a wooden desk.
Group discussion among diverse professionals in a bright room decorated with subtle Islamic art.
Group discussion among diverse professionals in a bright room decorated with subtle Islamic art.
Publikasi

Dokumen akademik terpercaya dan terverifikasi.

Kolaborasi

Kerja sama riset dengan berbagai institusi.